Creativity and Innovation

The opportunities, problems and solutions of C&I for the Indonesian young generations!

Bila kita membahas segala hal tentang Indonesia, baik dengan teman, keluarga maupun orang yang baru kita kenal di suatu tempat, apakah yang umumnya kita perbincangkan tentang hal tersebut? hal baik, atau hanya masalahkah yang terus kita keluhkan sepanjang waktu? Dan pada umumnya obrolan masyarakat di negeri ini hanya berputar pada satu hal negatif: masalah, masalah dan masalah yang terjadi setiap harinya bagaikan suatu terowongan tanpa ujung yang kita tidak tahu kapan dan bagaimana menemukan jalan keluarnya.

Masalah-masalah tersebut beraneka ragam, dari mulai kemiskinan, kebodohan, korupsi, pengangguran sampai degradasi moral yang terus membuat kita dipermalukan oleh bangsa lain akan buruknya kondisi bangsa ini. Lalu, apakah solusi dari semua fakta miris tersebut? bagaimana/apa cara yang bisa membuat bangsa ini maju?. Dan tentu saja selain bekerja sungguh-sungguh sesuai dengan keprofesian kita, maka jalan lain, yang sudah dilakukan oleh negara-negara makmur adalah seperti yang dikemukakan oleh seorang pakar  pakar entrepreneurship USA ini..

“Suatu negara akan maju pesat apabila jumlah entrepreneurshipnya (business entrepreneur) ada 2% dari jumlah penduduk” —David MccLelland

Entrepreneurship adalah suatu pekerjaan menyenangkan yang tidak menuntut banyak kemampuan:) Hal yang harus seorang entrepreneur lakukan hanyalah sebatas dua hal dalam hidupnya yaitu berkreasi dan berinovasi, pada hal, atau bahkan masalah disekitarnya untuk membuatnya menjadi lebih indah dan berguna bagi masyarakat:) Penelitian dari Bank Dunia di 150 negara tentang daya saing menyatakan bahwa faktor kemapuan inovasi dan kreativitas akan mempengaruhi 45% dari daya saing negara tersebut. Inovasi dan kreativitas merupakan komponen terbesar penyumbang daya saing, sedang sisanya akan dipengaruhi oleh networking (25%), teknologi (20%) dan modal sumber daya alam hanya 10%. Mengingat bahwa inovasi dan kreativitas adalah nyawa dari entrepreneurship, maka bisa kita simpulkan bahwa memang entrepreneur adalah kunci menuju daya saing bangsa yang lebih tinggi.


Kemudian bagaimana dengan jumlah entrepreneur di negeri kita ?. Laporan dari GEM (Global Entrepreneurship Monitoring) menyatakan bahwa pada tahun 2005 jumlah formal entrepreneur di Indonesia masih 0,18%. Bila jumlah penduduk Indonesia adalah 200 juta, berarti seharusnya minimal ada 4 juta formal entrepreneur, sedangkan yang tersedia sudah 3,6 juta. Jadi, tugas kitalah sebagai generasi muda (mahasiswa) sebagai agen perubahan dan agen penerus bangsa untuk melengkapi jumlah tersebut dan memajukan Indonesia!.

Dengan ilmu, semangat dan keberanian yang dimiliknya , didukung oleh potensi sumber daya Indonesia. maka mahasiswa kita memiliki peluang, prospek  dan kesempatan yang bagus untuk mengexplorasi potensi-potensi tersebut, berkreasi dan berinovasi untuk menambah nilai barang/jasa yang dibuat, memberi pekerjaan kepada orang-orang yang tidak memilikinya untuk kesejahteraan mereka, dan menjual produk tersebut dengan harga yang terjangkau oleh masyarakat. Peluang-peluang tersebut diwadahi oleh organisasi baik himpunan dan unit sebagai sarana pengembangan karakter, berbagai macam perlombaan dan pameran yang memacu kreatifitas mahasiswa, dan pendidikan resmi seperti dalam kuliah Creativity and Innovation:).

Sekarang masalahnya adalah mengapa masih banyak mahasiswa yang tidak mau memanfaatkan peluang tersebut? mengapa masih banyak yang ragu untuk membuat suatu kreasi dan inovasi? mengapa kita masih takut untuk menjadi seorang entrepeneur?

Solusi dari masalah-masalah tersebut  terangkum dalam 4 kata ini, yaitu How, Time, Money, and People.

Bagaimana seseorang bisa menjadi kreatif dan inovatif untuk menjadi seorang entrepreneur muda yang sukses?. Maka jawabannya hanya satu yaitu: keberanian. Dibutuhkan keberanian untuk mengatasi rasa takut, keberanian mengambil resiko, keberanian untuk berbeda dengan yang lain dan tentu saja keberanian untuk memulai, dari sesuatu yang kecil, untuk berusaha menjadikannya besar. Misalnya dalam hal kreatifitas, kita  bisa mengasahnya dari level paling rendah yaitu kreatif eksistensial (dimana kita menciptakan sesuatu dari yang belum ada menjadi ada) secara bertahap ke kreatif komunikasi, kreatif instrumental (menciptakan suatu alat – instrumen yang mana bila ada orang yang memanfaatkan alat tersebut maka orang tersebut menjadi kreatif misalnya komputer), kreatif orientasional (memanfaat hasil kreativitas level-level sebelumnya agar menjadi bermanfaat bagi masyarakat), bahkan tidak menutup kemungkinan hingga ke level kreativitas yang paling tinggi yaitu kreatif inovasional (kreatif yang menciptakan kreativitas-kreativitas baru lagi seperti perguruan tinggi). Inovasi yang kita buat-pun bisa dimulai dari level terendah dulu yaitu Inovasi Teknologi, Inovasi Produk, Inovasi Proses, hingga inovasi tertinggi, Inovasi Bisnis Model. Dengan ilmu yang kita dapat di universitas, juga potensi yang kita punya ditambah dengan kerja keras dan pantang menyerah maka kita dapat meraih level tertinggi dari tingkat kreatifitas dan inovasi tersebut untuk meraih kesuksesan🙂

Lalu, bagaimana mengatasi masalah uang, waktu dan sumber daya manusia untuk memudahkan proses kreatif dan inovatif kita? .  Jangan takut untuk menghadapi hal tersebut, ketakutan hanya akan membuat segalanya menjadi lebih susah. Tentu saja hal tersebut dapat dipecahkan melalui berbagai macam cara, dan cara terbaik menurutku adalah membuka mata lebar-lebar, pahami kondisi bangsa juga dunia saat ini, lalu manfaatkan teknologi yang terus berkembang, seperti halnya dengan Internet yang menyebabkan Globalisasi, seperti yang telah dipaparkan oleh Thomas L. Friedman dalam bukunya: The World is Flat.

Saat ini, menurut Friedman, telah terjadi globalisasi gelombang ketiga (Globalization 3.0) dimana kekuatan dinamisnya ialah individu- individu yang secara kasat mata telah mengglobal. Globalisasi tidak lagi didorong oleh mesin, hardware, tetapi oleh software dan jaringan serat optik yang menghubungkan semua manusia di dunia ini. Jika dua gelombang globalisasi sebelumnya didominasi oleh orang-orang Eropa dan Amerika, kini globalisasi melibatkan seluruh umat manusia dari bangsa, negara, dan ras manapun.

Friedman mengatakan bahwa dunia ini didatarkan oleh konvergensi 10 peristiwa utama yang berhubungan dengan politik, inovasi dan perusahan. Perkembangan cepat yang membuat manusia menjadi semakin sibuk, semakin dapat melihat satu dengan yang lain meskipun dalam belahan bumi yang berbeda.

Zaman sudah bergeser ke era digital dan segala sesuatu semakin saling terhubung (interconnected). Dengan internet, kita bisa menghemat waktu kita untuk mencari inspirasi dalam berkreasi dan berinovasi dengan memanfaatkan Google sebagai mesin pencari apa saja, mencari modal dengan memaparkan hasil kreasi dan inovasi kita ke suatu forum di dunia maya, menghemat biaya komunikasi/pencarian/controlling partner, supplier, pegawai dan para stakeholder, juga banyak kemudahan lain yang akan membuka link kita, baik nasional maupun internasional!

Jadi, tunggu apa lagi, mari kita berkreasi dan berinovasi sebanyak-banyaknya untuk menjadi seorang entrepreneur muda yang sukes! demi kemajuan dan kesejahteraan bangsa!!:)

Aghnia Amalia Septiany, 19009145/UTS CI

Advertisements

One thought on “The opportunities, problems and solutions of C&I for the Indonesian young generations!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s